kop

SEBUAH CATATAN REFLEKSI DARI PAMERAN BIOFACH JERMAN
Catatan awal Berawal dari sebuah pembicaraan dengan kawan Aliansi organik Indonesia ketika melakukan
pelatihan Internal Control System pada anggota Koperasi Serba Usaha (KSU) PODA di Sidikalang. ”Ikut aja
bang ke pameran Biofach di Jerman, biar langsung ketemu dengan buyer (pembeli) di sana. Kita kan mau
masuk ke fairtrade, jadi proses sertifikasi kita akan cepat kalau sudah ada buyer atau trader” kata orang AOI
dengan senyum dikulum. Aku yang ditantang untuk ikut dan mendengar nama Jerman, menyambutnya
dengan semangat 2010, ”Ok, aku ikut, nanti aku minta dana reserve untuk biaya ke sana, kalau tidak dikasih
aku minta ke pengurus, kalau ga dikasih juga ”ya uwes ta pake dana dewe” Seketika itu juga memori tentang
Jerman mengalir di kepala. Kota kota tua bersih dan teratur, manusia manusia penuh disiplin dan serius, orang
orang yang berjalan bak di kejar hantu, semua mengalir begitu saja dalam memori yang tersimpan belasan
tahun lalu. Tidak ada sedikit pun bayangan akan sebuah pameran dengan produk organiknya. Kabur menjurus
gelap akan apa yang akan ditemukan dan dilakukan di pameran tersebut. Biofach sendiri adalah sesuatu
yang asing bagi PETRASA dan baru menjadi wacana ketika ada motivasi untuk menjual kopi dan coklat
melalui pasar yang berkeadilan atau fairtrade. Kedatangan Anggela dan Brigette dari EED pada waktu yang
lalu ikut mendorong PETRASA untuk mulai ”memikirkan” pasar fairtrade. Apalagi Brigette berjanji akan
mencoba menghubungi GEPA salah satu perusahaan yang didirikan oleh berbagai organisasi di German
menjadi pembeli produksi dari Sumut ke depan. Pembicaraan beberapa bulan yang lalu akhirnya menjadi
kenyataan, atas nama Aliansi Organik Indonesia, PETRASA menjadi bagian dari tim untuk mengikuti biofach
Nurnberg. Kopi dan Cacao adalah dua produk yang akan dibawa ke pameran, meskipun menurut informasi
produk yang tidak bersertifikat tidak dapat dipajangkan di meja pameran. Kalau ketahuan maka akan kena
pinalti. Sangsinya cukup berat, tidak dapat mengikuti biofach untuk tahun berikutnya. Dua komoditi tersebut
hanya bisa dibawa dan mudah mudahan ada yang bertanya soal kopi dan cacao dari Indonesia, titik. Biofach
sebuah pameran organik terbesar di dunia ”This is the biggest organic agriculture exhibition in the world”
Kata salah seorang sumber informan kami. Dan apa yang diucapkan kawan tersebut memang benar adanya.
Aku sebagai orang yang terlalu lama bergelut di desa dan ”bicara” petani, terkaget kaget sampai tidak tahu apa
yang harus dilakukan di hari pertama selain mengelus dada dan menundukkan kepala. Malu rasanya kami
datang dengan produk yang tidak bersertifikat. Untung ada pelipur lara, produk beras dan kumis kucing yang
bukan produk anggota AOI. Bayangkan saja, hampir seluruh negara yang punya program pertanian organik
ada di sini. Bandingkan dengan negara Afrika misalnya, mampu menyewa booth (tempat pameran) yang
sangat strategis dan besar atau Amerika Latin yang langsung membawa petani dan menyewa satu tempat
untuk koperasi mereka. Dari daratan Asia muncul India, China dan Thailand yang menguasai produk organik
dan pakaian organik, mereka tidak kalah dengan Eropa sekalipun. Mereka dengan bangga memamerkan hasil
produk organik yang telah bersertifikat. Mereka dengan gagah menyapa setiap yang melewati booth mereka,
”Come and see, everything have been prepared for you…” Peserta yang datang tersebut rata rata didukung
oleh negaranya, kecuali Aliansi Organik Indonesia yang harus berjuang mencari dana dan kemurahan hati
EED. Mungkin karena sibuk dengan ”Century” Indonesia hanya bisa berpidato di negaranya dengan ucapan
lantang ”Go organic 2010” tapi sambil mengkonsumsi pestisida dan pupuk kimia, bahkan menjadi tempat
penampungan produk beracun dari negara lainnya dengan masuknya Indonesia ke perjanjian perdagangan
bebas atau free-trade tanpa melihat peluang di fair-tade. Terlalu fokus pada pertumbuhan ekonomi sehingga
memprioritaskan industri tanpa melihat potensi pertanian yang dapat mensejahterakan petani di pedalaman
sana. Apa yang dilakukan oleh negara Afrika, India, Amerika Latin dan negara lainnya kelihatannya sudah
saatnya juga dilakukan oleh negara Indonesia. Kecemburuan terhadap peran negara lainnya mendorong kami
berdiskusi banyak mengenai pelibatan peran negara Indonesia ke depan agar mau mendukung para petani
untuk sampai di sini dan memamerkan produk Indonesia. Sebuah komitmen yang kuat lahir di antara kami,
komitmen untuk mengadvocasy pemerintah baik di tingkat kabupaten, propinsi maupun Pusat. Kami yang di
desa akan mencoba bicara dengan pemerintah kabupaten, sementara kawan kawan yang di Aliansi akan
mendorong pemerintah pusat mendukung keikutsertaan Indonesia pada pameran berikutnya. Ini masih sebuah
usaha yang berat. Sertifikasi organik untuk masuk ke pasar internsional Hampir semua lembaga NGO
pendamping petani yang ada di Indonesia punya program pendidikan dan pelatihan pertanian organik. Bahkan
di Sumatra Utara mitra mitra EED dan BfDW bergabung membentuk jaringan pemasaran pertanian selaras
alam. JAPPSA muncul karena keprihatinan akan produk petani yang sudah mengarah ke produk pertanian
organik tidak mempunyai pasar tersendiri. Sebagaimana keahlian kawan kawan di NGO, Nama PSA sendiri
menjadi sebuah perdebatan yang cukup lama. Sebagian orang tetap berharap menggunakan istilah organik,
dan sebagian besar menginginkan nama lain yang tidak mengikuti istilah umum yang ditanamkan oleh negara
negara lain. Istilah PSA sendiri merupakan perlawanan terhadap hegemoni negara yang mengharuskan setiap
produksi pertanian disertifikasi oleh mereka, di samping pertimbangan akan sulitnya petani mengikuti kaidah
kaidah pertanian organik. Oleh karena itu bagi organisasi yang fokus pada pendampingan petani sama
seperti makan buah simalakama, di satu sisi ingin produknya masuk ke pasar Internasional yang
mengharuskan kita mengikuti perilaku internasional, di sisi lain, kita punya cita cita menjadikan petani yang
berdaulat, mandiri dan tidak tergantung lagi kepada kekuatan asing. Keinginan untuk menjadikan petani yang
mengatur dirinya sendiri, meskipun kedengarannya naif tetapi masih tetap dipegang teguh oleh beberapa
organisasi. Mungkin hal tersebut yang membuat lembaga lembaga sibuk dengan kegiatan di hulu, penguatan
dan pengorganisasian, advocasy, berbagai pendidikan dan pelatihan. Hal ini diperkuat dari hasil penelitian
yang dilakukan Johanes Kochi. Data membuktikan bahwa hampir seluruh NGO yang menjadi mitra mitra
EED dan BFdW berkecimpung disekitar produksi, artinya masih sekedar melakukan pendampingan kepada
petani agar beralih ke pertanian PSA atau organik dengan melakukan berbagai pendidikan dan latihan serta
membangun organisasi petani yang lebih kuat sementara belum menggarap potensi pasar yang seharusnya
juga menjadi bagian dari pendampingan agar petani dapat merebut pasar baik di tingkat lokal, nasional
maupun internasional. Dengan mengikuti pameran Biofach ini, keengganan untuk mensertifikasi produk
pertanian organik dan bahkan sertifikasi fairtrade yang belum organik adalah salah satu jalan untuk masuk ke
pasar Internasional. Mau tidak mau, suka atau tidak suka, perilaku melawan hegemoni asing harus juga
mengikuti trend global. Melawan dengan membanjiri produk kita ke negara mereka adalah salah satu strategi.
Strategi ini malah sudah dilakukan oleh kawan kawan petani di lintong dan di Takengon. Mereka yang tidak
mempunyai pendamping NGO malah mampu mendapatkan berbagai sertifikat dan membanjiri pasar Eropa
dan Amerika dengan produk kopi organik. Pertemuan antara producer, exporter dan buyer Kembali ke
pameran, Biofach benar benar pameran yang mampu mempertemukan produser, eksportir, importir maupun
pembeli. Barang apa saya kita letakkan di meja atau hanya melalui gambar yang terpampang di booth kita,
orang akan datang dan mencari informasi. Pengalaman ini terasa ketika Aliansi Organik Indonesia hanya
mempunyai dua produk yang layak di pamerkan (meskipun bukan produk anggota) yaitu beras dan kumis
kucing. Beras punya sang ratu dari Jawa yaitu Emelie, dan Kumis kucing dari Poros Indonesia. Sementara
produk anggota Aliansi tidak dapat dipajang karena belum bersertifikat. Satu satunya jalan orang dapat
mengetahui ada produk kopi, cacao, cinnamon, chesew nut, madu dan yang lain adalah melalui foto yang
terpampang di dinding boothnya AOI. Dengan hanya photo saja, orang orang cukup banyak yang datang dan
bertanya. Bahkan beberapa orang serius untuk berbisnis dengan AOI. Sampel tersebut laris manis dibawa oleh
mereka yang serius. PETRASA yang membawa sampel kopi dan coklat juga mendapat pembeli. Namun
ketika sampai ke pertanyaan apakah sudah disertifikasi? Maka dengan seyum mengembang dan sedikit
diplomasi kelas teri kita menjawab, ”dalam proses….” Pengalaman ini juga yang membuat lahirnya
semangat di antara kami. Potensi pasar sangat besar, peluang sangat terbuka untuk masuk ke pasar Eropa.
Semangat ini melahirkan sebuah pemikiran bahwa sudah saatnya NGO yang tergabung dalam Aliansi Organik
Indonesia bersatu padu untuk membangun sebuah PT yang akan menjadi wadah pemasaran produk produk
pertanian organik anggota AOI. Ide tersebut sebenarnya sudah pernah kami lontarkan dalam Rapat anggota
Aliansi namun pada saat ini kebanggaan punya PT Biocert masih sangat kental. Mudah mudahan
keikutsertaan Presiden AOI, Direktur dan Dewan Penasehat AOI serta tentunya Petrasa sebagai anggota punya
semangat yang sama akan mencoba meraih peluang pasar organik. Pameran Biofach ini telah membuka mata,
hati dan pikiran kita untuk mulai serius menggarap pasar yang berkeadilan tersebut. Catatan Penutup
Supaya petani tidak datang lagi ke kita sebagai pendamping dan mengatakan, ”Pak NGO, kami bisa buat kopi
dan coklat kami ini organik, tapi kemana kami jual kalau sudah organik?” Sekarang saya sudah bisa jawab,
”Oi kawan, buktikan dulu kalau kopimu organik caranya sederhana, sertifikatkan maka pembeli akan datang
dengan sendirinya seperti semut mengerumuti gula.” Samuel Sihombing (ketua JAPPSA)
jappsa: jaringan pemasaran pertanian selaras alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s